Bagaimana Supaya Dosa Anda Diampuni (Sumber : The Good Way)
Bagaimana Supaya Dosa Anda Diampuni (Sumber : The Good Way)
Bagaimana Supaya Dosa Anda Diampuni
- Dosa Menurut Islam
- Dosa Menurut Kristen
- Penebusan Menurut Islam
- Pengampunan Menurut Islam
- Amal Baik dan Pengampunan
- Puasa dan Pengampunan
- Naik Haji dan Pengampunan
- Sedekah dan Pengampunan
- Berjuang di Jalan Allah dan Pengampunan
- Mengaji dan Pengampunan
- Sahadat dan Pengampunan
- Kehendak Allah dan Pengampunan
- Dosa Yang Tidak Dapat Diampuni Menurut Islam
- Penebusan Menurut Iman Kristen
- Sebab-sebab Perlunya Penebusan
- Perlunya Keselamatan
- Kebejatan Manusia dan Kekudusan Allah
- Penebusan Sejalan Dengan Kebutuhan Moral Manusia
- Penebusan Memenuhi Tuntutan Hukum Taurat
- Penebusan Diistimewakan Dalam Firman
- Tuntutan Hukum Moral
- Kenyataan Adanya Korban Penebusan Dalam Banyak Agama
- Beberapa Masalah Penting Lainnya
- Ringkasan
- Bahan Kajian
A. DOSA MENURUT ISLAM
Ada banyak istilah dosa dalam Al Qur'an. Dan yang paling
menonjol di antaranya adalah:
- Al Dhanb (pelanggaran, kejahatan, kejijikan) - Dalam Al Qur'an terdapat 39 ayat tentang pokok ini. Semuanya berhubungan dengan ungkapan dalam ayat berikut ini: "Sesungguhnya Kami memenangkan engkau (ya, Muhammad) dengan kemenangan yang nyata, supaya Allah mengampuni dosamu (Al Dhanb)" (S.48 Al Fath 1-2).
- Al Fahsha' (perbuatan keji, kejahatan, perzinahan) - Istilah ini lazim digunakan untuk dosa zinah. Al Qur'an melarang dosa ini: "Janganlah kamu hampiri perbuatan keji, baik yang lahir ataupun yang batin" (S.6 Al An'am 151).
- Al Wizr (letih-lesu, beban, rintangan) - "Bukankah Kami (Allah) telah melapangkan dadamu dan telah Kami ringankan bebanmu (Al Wizr) yang berat. Yang memberati punggungmu" (H. Al Insyirah 1-3).
Al Fakhr Al Razi menjelaskan ayat ini demikian; suatu ketika Malaikat Jibrail mengunjungi Muhammad membelah dadanya dan mengambil hatinya. Hati itu dibersihkan dan disucikan dari segala bentuk pemberontakan. Kemudian diisi dengan pengetahuan dan iman.
Ibnu Hisam, mengutip Muhammad Ibnu Ishaq menjelaskan: "Suatu kelompok sahabat Muhammad bertanya kepadanya, 'Ya Nabi Allah, ceritakanlah kepada kami kisah tentang dirimu', Nabi menjawab, 'Saya dirawat di kalangan bani Sa'd. Ketika saya bersama saudara angkat saya sedang menggembalakan ternak di belakang rumah kami, datanglah dua orang berpakaian putih membawa sebuah baskom emas penuh dengan salju. Mereka membawa saya dan membelah tubuh saya. Hati saya diambil dan dibelah. Malaikat itu mengeluarkan sebuah gumpalan hitam dari dalam hati saya dan membuangnya. Kemudian hati dan tubuh saya dibasuh dengan salju. Sesudah itu malaikat itu berkata kepada malaikat lainnya, 'Timbanglah dia dengan sepuluh orang'. Saya ditimbang dan ternyata lebih berat dari 10 orang itu. Malaikat berkata lagi, 'Timbanglah dia dengan 100 orang', Malaikat yang satu menimbang saya lagi dan berat saya melebihi berat 100 orang itu. Malaikat berkata lagi, 'Timbanglah dia dengan 1.000 orang', Saya ditimbang dan masih lebih berat dari mereka. Akhirnya malaikat itu berkata, 'Biarkanlah dia, demi Allah, sekiranya engkau ingin menimbangnya dengan seluruh umatnya, dia tetap melebihi berat mereka.'" - Al Dalal (tersesat) - "Bukankah engkau didapatiNya seorang anak yatim, lalu dilindungiNya? Dan engkau didapatiNya dalam kesesatan (belum mendapat petunjuk), lalu ditunjukiNya dan engkau didapatiNya seorang miskin, lalu diberiNya kekayaan" (S.93 Adh Dhuhaa 6-8). Al Kalbi menafsirkan kata "hilang" dan "sesat" dengan "tidak percaya".
- Al Kufr (kafir, ateisme) - Seperti kata Al Qur'an pada orang beriman: "..tetapi Allah membencikan kepadamu kekafiran (Al Kufr), pasik dan kedurhakaan" (S.49 Al Hujurat 7). Al Zamakhshari menjelaskan: "Dalam ayat ini terdapat tiga hal, yakni; Al Kufr, menyangkal Allah, Al Fusuk untuk berdusta dan Al Usyan yang artinya durhaka".
- Al Zulm (tidak adil, jahat, tidak tulus) - Seperti dikatakan: "Ketika Tuhanmu menyeru Musa, 'Hendaklah engkau pergi kepada kaum aniaya (Al Zalimin)" (Asy- Syu'araa 10).
- Al Ithm (jahat, jijik, perlawanan) - Al Qur'an berkata: "Tinggalkanlah dosa lahir dan dosa batin. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa itu, nanti akan dibalas karena dosa yang telah mereka kerjakan itu" (S.6 Al An'am 120).
- Al Fudjur (bejat, jahat) - Al Qur'an berkata: "Dan sesungguhnya orang-orang jahat (Al Fudjur) dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan" (S.82 Al Infithaar 14-15).
- AlKhati'a ( dosa, pelanggaran) - Al Qur'an berkata: "Barang siapa memperbuat kesalahan kecil (Al Khati'a) atau dosa besar (Al Ithm) kemudian dilemparkannya kesalahan itu kepada orang yang tak bersalah, sesungguhnya ia memikul kebohongan (Al Buthan) dan dosa yang nyata" (S.4 An Nissa 112).
Dalam ayat ini ada tiga istilah dosa, yakni; Al Khati'a, Al Ithm dan Al Bhutan. Al Imam Al Razi membedakannya sebagai berikut:
- Al Khati'a untuk dosa kecil dan Al Ithm untuk dosa besar.
- Al Khati'a menunjuk pada satu kesalahan yang berakibat langsung pada diri sendiri, sedangkan Al Ithm adalah dosa terhadap orang lain, misalnya ketidakadilan dan pembunuhan.
- Al Khati'a adalah tindakan yang tidak patut, dosa karena keliru, sedangkan Al Ithm adalah dosa yang direncanakan.
Al Bhutan menunjuk pada dosa melemparkan kecurigaan yang menjijikkan pada orang yang tak bersalah. Seorang pengumpat akan dikecam keras di dunia dan dihukum secara mengerikan dalam kekekalan. - Al Sharr (jahat) - Al Qur'an menyatakan: "Barang siapa mengerjakan kejahatan (Al Sharr, meskipun seberat zarrah, akan dilihatnya (balasan) kejahatan itu, (zarrah = debu halus atau semut halus)" (S.99 Al Zalzalah 8). Ja'far Tabari, mengutip Yunus bin Abdul Al'a'la dari Ibnu Wahab dari Yahya bin Abdul Al Rahman Al Hubali dari Abdul Allah bin 'Amr Al'as berkata: "Pasal ini di turunkan ketika Abu Bakar Al Sadik sedang duduk. Ia menangis waktu ayat ini di turunkan. Nabi Allah bertanya kepadanya, 'Mengapa engkau menangis Abu Bakar?', jawabnya, 'Surat inilah yang membuat aku menangis'. Nabi Allah berkata, 'Jika engkau tidak berbuat dosa dan mengerjakan salah yang karenanya beroleh pengampunan Allah, maka Allah akan menciptakan satu umat yang akan berbuat dosa dan salah dan kemudian mengampuni mereka'".
- Al Sayyi'a (pelanggaran, kejahatan) - Al Qur'an berkata: "Barang siapa berbuat kejahatan (Al Sayyi'a), maka disungkurkan mukanya ke dalam neraka" (S.27 An-Naml 90). Ibnu 'Abbas berkata: "Sewaktu ayat ini di turunkan, orang beriman tidak mampu menanggungnya dan berkata kepada Muhammad, 'Siapakah di antara kami yang tidak mengerjakan kejahatan dan bagaimana dengan pembalasannya?' Muhammad menjawab, 'Allah telah menjanjikan berkat 10 kali lipat bagi orang yang taat dan satu hukuman untuk satu ketidaktaatan. Sebab itu orang yang ditanggungkan satu kesalahan akan kehilangan satu dari sepuluh berkat itu dan tinggallah yang sembilan'".
- Al Su' (Jahat, kemalangan) - Dikatakan: "Barang siapa mengerjakan kejahatan (Al Su) niscaya akan dibalas dengan kejahatan pula, sedang ia tiada memperoleh wali dan tiada pula penolong selain dari Allah" (S.4 An Nisaa' 123).
- Al Fasad (binasa) - Dinyatakan dalam Al Qur'an: "Apabila ia berpaling, ia berusaha di muka bumi berbuat kebinasaan dan merusakkan tanaman dan anak-anak. Dan Allah tiada mengasihi kebinasaan itu" (S.2 Al Baqarah 205).
- Al Fisk (kejam, fasik) - Ada tertulis dalam Al Qur'an: "Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada engkau beberapa ayat yang terang dan tiadalah yang menyangkal, kecuali orang-orang fasik" (S.2 Al Baqarah 99). Para penafsir mengemukakan bahwa Al Fisk terjadi pada waktu seseorang melampaui apa yang telah ditetapkan Allah dan di sinilah kefasikan menjadi kekafiran.
- Al Bhutan (fitnah, bohong) - Ada tertulis, "Mengapa tiada kamu katakan, ketika kamu mendengarnya; Bahwa kita tiada sepatutnya bercakap-cakap tentang hal ini. Maha suci Engkau (ya Allah). Inilah Kebohongan yang besar (S.24 An Nur 16).
Masih banyak lagi istilah dosa
lainnya. Kita tidak punya tempat yang cukup untuk mencatat
istilah-istilah tersebut berikut ayat-ayat Al Qur'an yang menunjangnya.
Sebelum mengakhiri pembahasan ini, perlu ditegaskan bahwa Al Qur'an
mengajarkan adanya "dosa asal" yang disebabkan kejatuhan Adam dan Hawa
serta keturunannya. Banyak ayat Al Qur'an mendukung hal ini. Mari kita
teliti beberapa ayat yang jelas dan mudah dipahami.
Sebagai contoh, Al Qur'an mengatakan,
"Berkata Kami, 'Hai Adam, tinggallah engkau bersama isteri engkau dalam
Surga, dan makanlah buah-buahnya dengan senang menurut kehendakmu; dan
janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang aniaya.
Kemudian keduanya diperdayakan oleh syetan, sampai dikeluarkan dari
(kesenangan) yang telah didapatinya. Berkata Kami, 'Turunlah kamu,
sebagian kamu dengan yang lain bermusuh-musuhan; dan untukmu tempat
kediaman di atas bumi dan kesenangan, hingga seketika (sampai ajalnya).
Kemudian Adam memperoleh kalimat dari Tuhannya (ia minta ampun), lalu
Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Dia Penerima Taubat lagi
Penyayang'" (S.2 Al Baqarah 35-37).
Sarjana-sarjana Arab berbeda pendapat,
mengenai tempat Adam dan Hawa berada sebelum mereka jatuh dalam dosa.
Abu Kasim Al Balkhi dan Abu Muslim Al Isfahani berkata, bahwa surga itu
(taman) berada di atas bumi dan kejatuhan (Al Ihbat) hanyalah satu
perpindahan tempat karena Al Qur'an menggunakan kata kerja "turun"
(Ihbat) untuk "pindah". Sebagai contoh, "turun ke Mesir" (Bandingkan Al
Baqarah 61). Al Djabba'i berpendapat, Surga (Taman berada di langit
ketujuh karena dikatakan "turun dari sana.
Perlu dicatat, Al Qur'an sama halnya dengan
Kitab Kejadian mengenai pemberontakan Adam, makan buah pohon di
tengah-tengah taman itu. Hanya sarjana Islam berbeda pendapat mengenai
jenis pohon tersebut. Mereka menyimpan banyak catatan berdasarkan
bukti-bukti tradisi Islam, antaranya;
- Ishak, mengutip 'Abdul Razzak, mengatakan: "Kami diberitakan oleh Ibnu 'Uyayna dan Ibnu Mubarak dan Al Hasan bin 'Amara dan Minhal bin 'Amru dan Sa'id bin Jibair dan Ibnu 'Abbas, bahwa jenis pohon yang dilarang Allah kepada Adam dan isterinya adalah 'bulir jagung'".
- Ibnu Hamid berkata sesuai tuturan Salama yang mengutip Ibn Ishak, beberapa orang Yaman, dan Wahab bin Munabbih Al Yamani, jenis pohon itu adalah gandum dengan bulir sebesar ginjal lembu, lebih halus dari mentega dan lebih manis dari madu.
- Dikatakan, Abu Bakar Al Saddik pernah bertanya pada Nabi Allah tentang jenis pohon itu dan dijawab, "Pohon yang diberkati itu adalah pohon jagung (bulir jagung)".
- Salama berucap sesuai dengan yang disampaikan Muhammad bin Ishak dan Ya'kub bin 'Ataba, bahwa pohon tersebut adalah yang digosok-gosok malaikat untuk mendapatkan kekekalan.
- Ibnu Waki' berkata sesuai dengan yang disampaikan 'Abd Allah yang menerimanya dari Isra'il, juga diterima dari Al Saddi, dan dituturkan oleh Ibn Abbas, bahwa pohon itu adalah pokok anggur.
- Mudjahid dan Katada mengatakan itu sebagai pohon ara.
- Al Rabi' Ibnu Uns berkata, bahwa orang yang memakan buah itu pasti akan membuang air besar, sedangkan di Surga dilarang berbuat seperti itu.
Al Qur'an sejalan dengan Alkitab mengenai Adam
dan Hawa menelan buah pohon karena tipu daya iblis, seperti yang
dikemukakan: "Syetan menyesatkan mereka".
Ibnu Djuradj mengutip Ibnu Abbas mengatakan:
"kata 'sesat' seharusnya, 'dia menggoda mereka'".
Menurut Al Qur'an, Adam adalah seorang Nabi.
Dan Islam mengajarkan bahwa Nabi tidak dapat berbuat salah. Timbul
masalah dengan kejatuhan Adam. Para penafsir telah berusaha keras untuk
menghindar dari masalah ini. Ada yang berpendapat, ketika pelanggaran
itu terjadi, Adam belum menjadi nabi. Pandangan ini tidak diterima
secara bulat. Sedangkan kelompok lain berpendapat bahwa Adam sudah
menjadi seorang Nabi sejak awal. Pelanggaran terjadi karena faktor
'lupa'. Mereka menyamakan hal ini dengan seorang yang sedang menjalankan
puasa, lalu lupa akan puasanya dan makan dengan tidak sengaja karena
tenaganya telah diserap oleh kegiatan hidup sehari-hari. Ada lagi yang
berpendapat bahwa Adam melakukan pelanggaran dalam keadaan mabuk setelah
disuguhi anggur oleh isterinya. Jadi dia melakukan dosa karena mabuk.
Saya sendiri sulit untuk mengerti, bagaimana
sampai penjelasan-penjelasan seperti ini diterima, sedangkan Al Qur'an
sendiri mengatakan: "Kemudian Adam memperoleh kalimat dari Tuhannya (ia
minta ampun), lalu Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Dia Penerima
taubat lagi Penyayang" (S.2 Al Baqarah 37).
Kata "taubat" menyatakan sepenuhnya, bahwa
Adam telah jatuh dalam dosa dengan sadar, seperti yang dikemukakan
Alkitab dengan ia menyalahkan isterinya.
Banyak sarjana mengakui, bahwa Adam makan
buah itu dengan sengaja. Abdul Dja'far Al Tabari, mengutip Yunis Abdul
Al'A'la dan Wahab dan Ibnu Zayd dalam menjelaskan kalimat: "Adam
menerima kalimat dari Tuhannya", berkata, 'Allah telah mengajarkan
mereka ayat ini, 'Yah Tuhan, kami telah berdosa pada diri kami. Jikalau
Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, pasti kami tersesat'.
Musa bin Harun mengutip 'Amr bin Hammad dan
Asbat dan Al Saddi, dalam menjelaskan "Adam menerima kalimat dari
Tuhannya", berbunyi, "Adam berkata kepada Tuhan, 'Bukankah Engkau
menciptakan aku dengan tanganMu?'. JawabNya, 'benar'. 'Tidakkah Engkau
telah menghembuskan rohMu?' JawabNya, 'benar'. 'Bukankah kemurahanMu
melebihi murkamu?' JawabNya, 'benar'. Dia berkata lagi, 'Yah Tuhan,
apakah Engkau telah menetapkan aku untuk melakukan hal ini?' Juga
jawabNya, 'benar'. Kemudian dia berkata, 'Yah Tuhan, jika aku taubat dan
membayar semua kesalahanku, maukah Engkau menempatkan aku kembali ke
Surga (Taman)?' JawabNya, 'benar' dan Allah Tuhannya memilih dia dan
menerima taubat serta membimbingnya'". Tulisan lain berasal dari
Muhammad bin Bashshar yang mengutip Abd Al Rahman bin Mahdi, disampaikan
oleh Sufyan, yang diceritakan oleh Abd Aziz bin Rafi, sesuai dengan
informasi yang diterima seorang dari Ubyad bin Umayr, mengatakan bahwa
Adam berucap; "Yah, Tuhan, apakah dosa yang telah aku perbuat sudah Kau
takdirkan sebelum Engkau menciptakan aku ataukah itu sesuatu yang Kau
ciptakan sendiri?" Allah menjawab: "Itu sudah Kutakdirkan sebelum Aku
menciptakanmu." Adam berkata lagi: "Seperti Engkau telah mentakdirkan
itu untukku, ampunilah aku." Inilah latar belakang turunnya ayat "Adam
memperoleh kalimat dari Tuhannya".
Semua penjelasan ini belum dapat
menghilangkan satu kenyataan logis, "Adam memilih untuk melakukan dosa."
Hal mana telah direnungkan Al Fakhr Al Razi dalam kata-katanya: "Banyak
ayat yang dianut mereka (para sarjana Islam) sehubungan dengan perilaku
manusia dan yang pertama adalah kisah Adam. Mereka menganut tujuh paham
berikut ini:
- Bahwa dia tidak taat. Ketidaktaatan adalah dosa besar dalam dua hal. Pertama, Al Qur'an menuntut adanya hukuman atasnya sesuai dengan Firman Yang Maha Tinggi: 'Barang siapa yang tidak mentaati Allah dan NabiNya menghendaki api neraka'. Kedua, kata 'tidak taat' adalah julukan penghinaan yang tidak patut dan hanya ditujukan pada mereka yang telah melakukan dosa besar.
- Telah diungkapkan dalam kisah Adam bahwa dia terbujuk seperti dikatakan Al Qur'an: 'dia diperdayakan', dan memperdaya berarti menentang bimbingan yang benar.
- Dia seorang yang bertobat. Seorang yang bertobat adalah orang berdosa. Orang bertobat menyesali dosanya dengan sungguh disertai rasa sesal yang dalam karena dirinya adalah orang berdosa. Apabila berdusta, dia telah berdusta dengan menipu. Jika dia benar, terbukti dia adalah orang berdosa.
- Dia sudah mengerjakan apa yang dilarang oleh Firman Allah: "Bukankah Aku telah melarang pohon itu kepada kamu berdua?" Dan, 'Jangan dekati pohon itu, ' dan mengerjakan yang dilarang merupakan akar dosa.
- Dia dinamakan orang berdosa sesuai dengan kalimat Allahnya: "Maka kamu akan berasal dari orang berdosa. Dia (Adam) menyebut dirinya seorang berdosa dalam kalimat, 'Yah, Tuhan, kami telah berdosa pada diri kami sendiri'. Pelanggar Firman mendapat kutukan Tuhan sesuai Firman Allah, 'Sesungguhnya kutuk dari Allah menetap atas orang-orang berdosa', dan mereka yang mewarisi kutuk adalah orang berdosa besar.
- Dia (Adam) mengakui, kalau bukan pengampunan dari Allah yang diberikan kepadanya maka dia termasuk di antara mereka yang sudah kehilangan segalanya. Dengan ini dia sudah menyatakan diri sebagai orang yang berdosa besar.
- Dia dikeluarkan dari Taman atas tuduhan jahat Syetan, dan kehancurannya sebagai imbalan mentaati Syetan, menyatakan dia seorang berdosa besar.
Para sarjana berbeda pendapat
bagaimana Syetan masuk dalam Surga dan menipu Adam. Al Kassas, mengutip
Wahab bin Munabbih dan Al Saddi dan Ibn 'Abbas, berkata, 'Ketika Syetan
berniat memasuki Surga, dia dilarang malaekat penjaga. Sesudah
menyatakan diri pada semua binatang yang ada dan tidak satupun
menerimanya, Syetan mendapatkan ular, makhluk berkaki empat dan seekor
binatang melata terbaik. Ular menelan Syetan dan membawanya masuk ke
Surga secara rahasia. Sewaktu memasuki Surga Syetan keluar dengan
berbisik-bisik. Karena hal itulah maka ular dikutuk. Ia kehilangan
keempat kakinya, melata dengan perut, makan lebuh tanah dan menjadi
musuh anak-anak Adam."
Dalam sebuah buku (Djami 'Al Bayan) Al Tabari
mengutip Hasan Abi Yahya dan 'Abd Al Razzak yang berkata: "'Amr bin
'Abd Al Rahman bin Muharrib, bercerita, dia mendengar Wahab bin Munabbih
menyampaikan, 'Ketika Allah menempatkan Adam dan keturunannya di Surga,
Ia melarang mereka terhadap 'pohon', yang bercabang banyak dan berbuah
lebat, sebuah pohon yang diambil malaekat untuk mencapai kekekalan. Buah
pohon ini yang dilarang Allah untuk Adam dan isterinya.' 'Sewaktu iblis
berniat menjatuhkan mereka, ia memasuki ular berkaki empat, binatang
terbaik di antara binatang melata, ciptaan Allah. Ketika ular memasuki
Surga iblis keluar, memetik buah pohon yang dilarang Allah bagi Adam dan
isterinya dan membawa buah itu kepada Hawa sambil berkata, 'Pandanglah
buah ini, alangkah harum baunya, sedap rasanya dan elok warnanya. 'Hawa
mengambil buah itu, dimakannya dan dibawa kepada Adam sambil berkata,
'Pandanglah buah ini, alangkah harum baunya, sedap rasanya dan elok
warnanya.' Adam turut makan dari buah itu, dan tumbullah rasa malu dalam
diri mereka. Adam bersembunyi dalam lubang pohon itu. Tuhan memanggil,
'Hai Adam, dimanakah engkau?' Jawabnya, 'Aku disini, Tuhan.' Allah
bertanya, 'Maukah engkau keluar?' Adam menjawab, 'Aku malu berada
dihadapanMu, yah Tuhan!' Allah berfirman, 'Terkutuklah bumi yang darinya
engkau dijadikan. Kutuk akan merubah buah menjadi semak duri. ' (Tiada
lagi ada yang baik di Surga (Taman) maupun di atas bumi sesuatu seperti
itu (buah) yang lebih baik dari pisang dan seroja atau teratai). Dan
Allah berfirman lagi, 'Hai Hawa, engkau telah memperdaya hambaKu. Engkau
akan hamil dengan keengganan dan menghadapi maut setiap melahirkan
anak.' Kepada ular Allah berfirman, 'Engkau satu-satunya yang membawa
'si terkutuk' itu ke dalam Taman untuk menipu hambaKu. Sebab itu,
'terkutuklah kau sepenuhnya. Kakimu akan masuk ke dalam perutmu dan
tidak akan ada makanan lagi bagimu selain lebuh tanah dan manusia akan
menjadi musuhmu. Engkau akan meremukkan tumit mereka setiap menjumpai
mereka dan mereka akan meremukkan kepalamu.
Ahli-ahli hukum Islam lain berpendapat; Adam
dan Hawa ketika itu sedang menuju pintu gerbang Taman dan Iblis yang
sudah menanti di situ berbisik kepada mereka.
Ada bagian-bagian Al Qur'an yang menjernihkan
masalah; Apakah Adam itu seorang berdosa atau tidak. Dikatakan: "Syetan
mewas-waskan (memperdaya) katanya, 'Hai Adam, maukah Kutunjukkan
kepadamu sepohon kayu kuldi (kekal) siapa memakan buahnya niscaya kekal
dalam surga dan kerajaan yang tiada akan habis, lalu keduanya memakan
buah itu, maka kelihatanlah kemaluannya, lalu keduanya menutupinya
dengan daun pohon kayu surga. Dan Adam mendurhakai Tuhannya, lalu ia
jahil (tersesat)" (S.20 Thaha 120-121).
Kata "jahil" (tersesat) diambil dari akar
kata "keselamatan". AL Razi menjelaskan, "sesat" sinonim dengan
"kesalahan". Kesalahan adalah lawan kata dari integritas perilaku.
Itulah dosa bejat diredam dalam hidup yang risau.
Abu Imam Al Bahili berkata: "Masalah Adam
adalah masalah istimewa. Allah membangkitkan dalam dirinya satu
keinginan akan hidup tenang dan teratur, dengan berfirman, 'Jangan dia
mengeluarkan kamu berdua dari dalam surga nanti engkau celaka, dan
sesungguhnya engkau tiada lapar di dalamnya dan tiada pula bertelanjang,
dan sesungguhnya tiada haus di dalamnya dan tiada pula (panas) waktu
matahari naik" (S.20 Thaha 117-119).
Iblis juga membuatnya ingin hidup tenang
dengan berkata: "Maukah kutunjukkan kepadamu sepohon kuldi (kekal)?" Ia
juga menimbulkan keinginan hidup teratur dalam perkataannya: "...dan
kerajaan yang tiada akan habis. "Segala yang diciptakan Allah, yang
dirindukan Adam, sama dengan yang dikemukakan Iblis. Allah melarang Adam
menyentuh pohon itu.
Karena Adam memiliki akal budi sempurna, yang
mengenal Allah sebagai Tuhan, Guru dan Penolongnya dan ia tahu Iblis
sebagai musuhnya, timbul pertanyaan, "Bagaimana mungkin ia menerima
perkataan Iblis yang dikenal sebagai musuhnya dan menolak firman Allah?"
Satu kenyataan, para penafsir tidak dapat meniadakan begitu saja
pelanggaran Adam, karena Al Qur'an mengakuinya: "Adam mendurhakai
Tuhannya, lalu ia jahil (tersesat)."
Semua ahli tafsir sependapat berdasarkan
ayat-ayat Al Qur'an, "pemberontak" adalah dosa. Dan pemberontak adalah
julukan penghinaan besar, ditujukan kepada yang melakukan dosa besar.
Mereka tidak merinci apa yang dimaksud dengan melakukan dosa besar itu.
Hanya dijelaskan sebagai orang yang melakukan perbuatan yang patut
dihukum.
B. DOSA MENURUT IMAN KRISTEN
Dosa nampak jelas dalam sejarah manusia.
setiap orang yang menyelidik harinya atau memperhatikan perilaku
sesamanya, mengakui kenyataan dosa ini. Semua manusia termasuk yang
belum pernah menerima pernyataan illahi, sadar akan dosanya dan mengakui
kegagalan dan ketidakmampuannya memenuhi tanggung jawab moral yang
dituntut darinya.
Dosa bukan sekedar perilaku yang memalukan
seperti pendapat yang lazim. Dosa menyangkut penyimpangan dari Allah,
Pencipta hidup dan dari pusat tujuan hidup kita. Penyimpangan yang bukan
sekedar cenderung berbuat jahat; tetapi satu keterpisahan dari yang
baik.
Pengalaman membuktikan manusia duniawi
sanggup menyelidiki kuasa dosa dan pengaruhnya dalam hidup manusia.
Orang beriman memiliki hukum illahi sebagai instruktur yang memimpin dia
kepada Al-Masih. Al-Masih memberinya anugerah, dan dia menyadari dosa
yang memikat manusia pada kehancuran. Ia sadar, perlunya anugerah illahi
dan darah penebusan untuk pembenarannya. Secara umum dapat dikatakan,
dosa adalah pelanggaran (I Yohanes 3:4). Pelanggaran terhadap hukum
Allah. Tindakan menentang Allah yang tidak mengenal rasa bersalah dan
meremehkan dosa.
1. Masuknya Dosa dalam Dunia
Kita dapat membaca dalam Roma 5:12 demikian: "Sebab itu
sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh
dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua
orang, karena semua orang telah berbuat dosa." Rasul Paulus disini
menjelaskan; Adam, bapa umat manusia menyebabkan manusia berdosa. Paulus
dengan menggunakan kalimat "oleh satu orang" melihat Adam dan Hawa satu
adanya seperti dalam Kejadian 5:2. Rasul tidak menyinggung godaan si
ular dan tidak taatnya Hawa; dengan maksud menunjukkan Adam sebagai
wakil keturunannya.
Beberapa ahli filsafat berpendapat bahwa
manusia itu dilahirkan tanpa cacad. Jika ia hidup dalam lingkungan yang
bobrok, ia akan dipengaruhi lingkungan tersebut dan dosa masuk dalam
hidupnya. Pada hakekatnya manusia dilahirkan dalam dosa. Itu benar!
Lingkungan hanya menunjang pertumbuhan dosa tersebut. Manusia berdosa
dari dalam hatinya.
2. Dosa adalah suatu warisan
Dari pengalaman kita belajar; makhluk hidup tidak
berasal dari jenis yang berbeda. Lembu tidak melahirkan domba, seperti
yang dikemukakan Al-Masih: "Anggur tidaklah dipetik dari onak duri."
Hukum ini berlaku bagi manusia. Adam, bapa umat manusia telah kehilangan
kebenaran hidup karena tidak taat. Hukumannya dia dikeluarkan dari
kekudusan Taman Firdaus ke tanah yang dikutuk karena dosanya. Dia
beranak cucu, keturunan yang tidak lagi memahami keadaan Taman itu.
Alkitab menyatakan kebenaran ini melalui kata-kata Daud dalam Mazmur
51:7, "Sesungguhnya dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku
dikandung ibuku." Paulus berkata dalam Roma 3: 10-12: "Tidak ada yang
benar seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun berakal budi, tidak ada
seorangpun mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua
tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak."
Agustinus menjelaskan pengajaran Alkitab
mengenai kejatuhan manusia pertama dan pewarisan dosa tersebut sebagai
berikut:
- Allah menciptakan manusia pertama sesuai dengan gambarNya dalam pengetahuan, kebenaran dan kesucian; terpilih menjadi makhluk kekal; dan diserahi tanggung jawab atas makhluk lainnya. Dia memberikan Adam kuasa memilih yang baik dan jahat, suatu penetapan unsur moralnya.
- Karena memilih berdasarkan kehendak sendiri, Adam berdosa kepada Allah dengan memilih secara keliru pada waktu dicobai iblis. Ia jatuh dari kehidupan yang diciptakan untuknya.
- Karena tidak taat, ia kehilangan gambar illahi dan seluruh keberadaannya menjadi rusak. Dia mati secara rohani; tidak mampu berbuat baik; terikat pada kematian jasmani; terbuka pada kejahatan dan kematian kekal.
- Karena Adam adalah kepala umat manusia maka semua itu menimpa segenap keturunannya. Keturunannya dilahirkan dalam hukuman, tanpa gambar Allah dan rusak moral.
- Kehancuran yang diwarisi secara per orangan ini disebabkan oleh dosa walaupun tidak nampak dalam perilaku.
- Hilangnya kebenaran azali dan rusaknya sifat manusia (sifat baik) sebagai akibat dosa Adam, merupakan hukuman atas dosa mula-mula.
- Pembaharuan adalah pekerjaan Roh Kudus yang mengagumkan. Manusia menjadi objek pembaharuan itu, bukan subjeknya. Semua berhubungan dengan kehendak Allah tanpa kecuali. Keselamatan didapat dengan anugerah.
3. Akibat Dosa atas Manusia
Huxley, ilmuwan Inggeris berkata: "Saya tidak mengenal
pelajaran yang membukakan rahasia rohani yang lebih besar dari pada
evolusi umat manusia. Dari latar belakang sejarah kelam dapat dikatakan
bahwa manusia adalah sasaran dari satu elemen yang diletakkan dan
menguasainya dengan kuasa yang sangat besar. Dia buta dan menjadi korban
tak berdaya dari dorongan-dorongan yang membawanya pada kehancuran dan
khayalan tak berujung, sehingga menjadi beban mental yang besar dan
berakibat pada kesehatan karena kekuatiran dan ketegangan. Setelah
beribu-ribu tahun lamanya, manusia tetap sama; berkelahi, menganiaya
sesama, meratapi korbannya dan membangun kubur mereka."
Perlukah penderitaan seperti itu, guna
menyadarkan seseorang dari akibat dosa? Bukankah cukup dengan
menyelidiki hati, dapat menemukan kecenderungan dan perilaku serta
adanya hukum dosa yang bercokol dalam dirinya?
Dengan melihat sepintas lalu saja kehidupan
masyarakat, kita dapat mengetahui kenyataan tersebut. Seperti
dikemukakan Mazmur 14:1, "Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada
yang baik." Yesaya 53:6, "Kita sekalian sesat seperti domba,
masing-masing kita mengambil jalannya sendiri." Manusia hidup tanpa
gambar Allah yang pernah dimiliki Adam sebelum kejatuhannya dalam dosa.
Dosa menjadi kenyataan dalam hidup manusia. Satu kebenaran yang tak bisa
dibantah lagi. Kebobrokan manusia nampak atas ketidakmampuannya
memelihara hukum moral, meskipun disertai rasa sesal terhadap dosa
pribadinya itu. Suatu pertanda kemerosotan ahlak dan kegagalan.
Untuk itu, manusia harus menerima anugerah
Allah melalui pertolongan Roh Kudus. Jiwa manusia sudah kehilangan
kebenaran azali (sejati) seperti pada manusia pertam sebelum jatuh dalam
dosa.
Kiranya ulasan singkat ini sejarah kejahatan
ini cukup memberi bukti nyata bahwa manusia telah kehilangan sifat
illahi dan sudah terseret dalam dosa yang muncul pertama kali dalam
hidup Kain, anak Adam. Kain membunuh Habil adiknya. Mengapa demikian?
Bukankah Kain jahat adanya?
Mengapa kita saling bertengkar? Bukankah
karena dosa yang sudah berakar dalam hidup kita? Mengapa bangsa
berperang melawan bangsa lain? Bukankah itu merupakan tumpukkan dosa
banyak orang?
4. Upah Dosa
Kejadian
2:17, "Tetapi Pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu, janganlah
kamu makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau
mati."
Yehezkiel 18:20, "Orang yang berbuat dosa itu
yang harus mati." Roma 6:23, "Upah dosa ialah maut."
Adam dan Hawa mati secara rohani saat mereka
berbuat dosa. Mereka terpisah dari Allah dan kehilangan persekutuan
rohani yang kudus. Disamping itu mereka kehilangan kerinduan akan
kehadiran Allah dan menyembunyikan diri dariNya di antara pepohonan
dalam taman itu (Kejadian 3:8). Mereka sakit atau lemah, mungkin
mengingat teguran Tuhan ini: "Pada hari engkau memakannya pastilah
engkau mati."
Adalah satu peringatan bagi kita apabila
menyaksikan sendiri akibat dosa pada hidup seseorang. Satu pertanyaan,
Adakah keluarga mula-mula itu kehilangan semua hak istimewanya? Apakah
kesucian diambil untuk selamanya? Tentu saja tidak! Allah itu kasih
adanya. KasihNya kaya dengan kemurahan; dalam Dia ada pengampunan besar.
Kasih menggerakkan hatiNya dengan belas kasih yang tidak menghendaki
kebinasaan orang berdosa. Sesungguhnya Dia telah menjadi Penebus dan
Juruselamat umat manusia dalam pribadi Al-Masih, Firman yang
bersama-sama dengan Allah sejak mula. Wujud kasih Allah yang pertama,
dinyatakan dengan menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa dengan jubah
kulit binatang (Kejadian 3:21). Demikianlah Tuhan Allah melakukan
prinsip janji penebusan.
PENEBUSAN MENURUT ISLAM
Ada 14 ayat Al Qur'an yang berhubungan dengan
penebusan. Sesuai dengan urutan pasalnya, kita temui pertama, Firman
Allah: "Jika kamu lahirkan sedekah, maka itulah sebaik-baiknya, dan jika
kamu sembunyikan dan kamu berikan kepada orang kafir, maka itulah yang
lebih baik bagimu dan menutupi kesalahanmu, dan Allah Maha mengetahui
apa-apa yang kamu kerjakan" (S.2 Al Baqarah 271).
Ahli tafsir menjelaskan penebusan sebagai
satu penutupan atau tirai. Penjelasan mana mendekati keterangan
Perjanjian Lama. Dalam Islam, amal seseorang seperti juga dalam Agama
Yahudi, berperanan penting dalam soal penebusan. Dan usaha yang utama
adalah doa. Seperti yang dikemukakan: "Dirikanlah shalat di waktu dua
tepi siang (padi dan petang) dan sebagian dari pada malam (Magrib dan
Isya). Sesungguhnya kebaikan menghapus kejahatan"(S.11 Hud 114).
Al Tirmidhi mengutip Abi Alyu berkata: "Suatu
hari ada seorang wanita mendekati saya untuk berkencan. Saya memeluk
dan menciumnya. Sesudah itu saya mendapatkan Muhammad dan menceritakan
apa yang terjadi. Dia menundukkan kepala, setelah merenung sejenak Nabi
berkata: "Dirikanlah shalat dua tepi siang (pagi dan petang) dan
sebagian dari pada malam. Sesungguhnya kebaikan menghapus kejahatan."
Artinya, sembahyang lima waktu akan menghapus dosa dan menebus mereka.
Kemudian seorang sahabatnya bertanya: "Ya, Nabi Allah, 'apakah hal ini
hanya dikhususkan bagi orang tersebut atau juga untuk semua orang?'"
Jawab Nabi, "Untuk semua orang".
Muslim menghubungkan apa yang dikemukakan
oleh Abd Allah, "Seorang lelaki datang kepada Nabi berkata, 'Yah, Nabi
Allah, aku telah memegang seorang wanita di pinggir kota dan memuaskan
nafsu tanpa melakukan persetubuhan. Sekarang saya menghadap, hukumlah
saya seturut kehendakmu'". Umar yang berdiri dekatnya berkata: "Allah
akan tetap merahasiakan rahasiamu jika engkau merahasiakannya bagi
dirimu sendiri". Nabi Allah hanya berdiam diri. Ketika pria itu beranjak
hendak pergi, Nabi memanggilnya dan mengucapkan lagi ayat ini
...."dirikanlah shalat...". Muslim mengutip Abu Bakar, berkata: "Tidak
seorangpun (sebagai hamba Allah) yang berdosa (melanggar) dan yang
membersihkan dirinya (sesuai dengan ibadah Islam) dan kemudian bershalat
dua kali dengan mengucapkan seluruh doanya dan mencari pengampunan dari
Allah yang tidak akan diampuniNya." Kemudian dia mengajikan: "Dan
orang-orang, apabila mereka berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya
mereka ingat akan Allah, lalu minta ampun atas dosanya itu. Dan tiadalah
yang mengampuni dosa kecuali Allah. Mereka itu tiada berkekalan atas
perbuatannya itu, sedang mereka mengetahui" (S.3 Ali Imran 135).
Tiada yang lebih jitu dalam soal penebusan
dari Surat Al A'Raf 8-9; "Pada hari itu ada neraca yang berhak
(adil).Barang siapa yang berat timbangan (pahala), merekaitulah orang
menang. Barang siapa yang ringan timbangannya, mereka itulah orang yang
merugikan dirinya, karena mereka aniaya terhadap ayat-ayat kami
(membatahnya)".
Imam Al Razi dalam penjelasannya mengenai
timbangan perbuatan manusia, mengemukakan dua hal:
- Dikatakan bahwa Allah akan meletakkan satu timbangan dengan jarum penunjuk dan dua piring timbangan pada Hari Kebangkitan untuk menimbang semua perbuatan manusia, baik dan jahat. Hal mana sejalan dengan Ibnu Abbas yang berkata: "Pekerjaan orang beriman akan nampak dalam bentuk terbaiknya dan akan diletakkan pada timbangan, kebaikan akan mengalahkan perbuatan jahatnya."
Ada beberapa pendapat mengenai cara menimbang. Pertama, perbuatan orang beriman akan muncul dalam bentuk yang baik dan perbuatan orang yang tidak beriman, muncul dalam bentuk tidak terpuji. Dalam bentuk ini mereka ditimbang. Kedua, timbangan akan didasarkan pada catatan-catatan perbuatan manusia yang ada. - Pandangan kedua diterima dari Mudjahid dan Al Sahhak dan Al A'mash mengatakan bahwa maksud penimbangan itu adalah keadilan dan penghukuman. Muhammad ketika ditanya mengenai soal timbangan pada Hari Kebangkitan itu, menjawab: "Buku catatan".
Ada kisah menarik mengenai panjang jarum
timbangan dan besarnya piringan timbangan itu. "Abdul Allah Ibnu Salam
berkata, "Seandainya bumi dan langit diletakkan dalam piring timbangan
maka tetap akan tidak tertampung, dan Jibrail yang memegangnya masih
sanggup melihat jarum penunjuk."
Dalam hal menimbang seperti dikemukakan
"Abdul Allah, Ibnu Umar: "Nabi berkata, Pada Hari Kebangkitan manusia
akan dibawa pada timbangan dan 99 kitab, panjang masing-masing sejauh
mata memandang, dihadapkan kepadanya. Kitab yang berisikan semua dosa
dan pelanggaran diletakkan pada piring timbangan, Kepadanya diberikan
secarik kertas bertuliskan dua kalimat shyadat: "Tiada Tuhan selain
Allah dan Muhammad adalah NabiNya", diletakkan pada piringan satunya dan
akan mengalahkan perbuatan jahat. Ada ayat Al Qur'an yang berbunyi:
"Kami letakkan neraca yang adil pada Hari Kiamat, maka tiadalah
teraniaya seorang sedikitpun, Jika usahanya seberat biji sesawi, niscaya
Kami hadirkan juga, Cukuplah Kami memperhitungkannya" (S.21 Al Anbiya
47).
Menurut pendapat beberapa penafsir, mungkin
saja akan ada neraca yang menimbang keinginan hati sedangkan yang
lainnya menimbang prilaku yang kelihatan. Al Fakhr Al Razi menghubungkan
dengan kisah baru yang artinya: "Daud bertanya kepada Tuhannya agar
diperlihatkan neraca itu. Waktu ia melihat neraca itu dia jatuh pingsan.
Setelah siuman kembali dia berkata: "Yah, Allahku siapakah yang sanggup
memenuhi timbangan itu dengan amal baik?' Dia menjawab, 'Hai Daud jika
Aku berkenan dengan hambaKu maka Aku akan memenuhinya dengan buah
(kemenangan)'". Bilal bin Yahya mengutip Hudhayfa berkata: "Jibrail yang
ada damai sejahtera, pada Hari Kebangkitan bertanggung jawab atas
timbangan itu dan Allah akan berkata, 'Hai Jibrail timbanglah mereka dan
ganjarilah yang tertindas dan si penindas yang tidak beramal baik
letakkan pada timbangan kejahatan sahabat-sahabatnya (yang tertindas),
dan orang itu akan pergi dengan beban seberat gunung." Abu Dja'far
menghubungkan dengan yang dikatakan Muhammad: "Tidak ada yang diletakkan
dalam neraca yang melebihi keagungan prilaku".
Akhirnya dapat saya simpulkan
pandangan-pandangan ini dengan kata Muhammad bin Sa'd yang mengutip Ibnu
Abbas, "Barang siapa yang telah melingkari perbuatan jahatnya dengan
amal baik maka timbangannya akan menjadi berat. Amal baik akan menghapus
perbuatan jahatnya. Dan barang siapa melingkari amal baik itu dengan
perbuatan jahat maka timbangannya akan ringan dan dia adalah anak
neraka. Perbuatan jahatnya menghapus amal baiknya."
Kesalehan menebus Dosa
Sebagaimana Allah berfirman: "Hai orang-orang yang
beriman, jika kamu takut kepada Allah, niscaya Allah memberimu petunjuk
dan menutupi kesalahanmu, serta mengampuni dosamu, Allah mempunyai
karunia yang maha besar"(S.8 Al Anfaal 29).
Ada pahala tiga kali lipat untuk orang
saleh.
- Dia akan memberikan batasan (perbedaan). Istilah yang digunakan untuk perbedaan sebagaimana diterjemahkan ahli hukum Islam, menyatakan bahwa Allah menerapkan antara yang saleh dan yang fasik; artinya Allah memberikan bimbingan dan pengetahuan kepada yang saleh, Dia memenuhi hati dan dadanya dengan kesukaan dan mengangkat benci dan dengki dari hati mereka.
- Dia akan menutupi segala kejahatan yang pernah dilakukan.
- Dia akan mengampuni anda.
PENGAMPUNAN MENURUT ISLAM
Apabila kita menelaah Al Qur'an dengan cermat
akan, kita akan menemukan satu perbedaan antara penebusan dan
pengampunan. Ahli Tafsir membedakannya demikian; penebusan atas
kejahatan artinya satu penutupan (dosa) di dunia ini sedangkan
pengampunan adalah peniadaan dosa di Hari Kebangkitan.
Amal Baik dan Pengampunan
Ajaran Islam menjelaskan pada kita bahwa pengampunan
dosa didasarkan atas amal baik seseorang, sesuai dengan bunyi Al Qur'an:
"untuk mereka itu akibat (yang baik) di kampung (akhirat). (Yaitu)
surga 'Aden, mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang salih di
antara bapak-bapak, isteri-isterinya dan anak-anaknya"(Surat Ar-Ra'du
22-23).
Muhammad pernah berkata kepada Mua'dh bin
Djabal, 'Jika engkau telah melakukan kejahatan maka perbuatlah juga
kebaikan dan kebaikan ini akan menghapus kejahatan itu." Al Hasan juga
melukiskan ini (amal baik) demikian: "Mereka dicabut dari pertolongan
dari apa yang mereka berikan dan apabila dipersalahkan secara tidak adil
maka mereka itu beruntung." Zudjadi berkata: "Allah telah membuat itu
jelas bahwa keturunan yang langsung tidak ada artinya kecuali disertai
amal baik." Al Wahidi dan Al Bukhari mengutip Ibnu Abbas berkata: "Allah
memberikan pahala bagi mereka yang taat kenikmatan bersama keluarganya
di surga." Hal ini menunjukkan bahwa mereka masuk surga berdasarkan
ketaatan seorang yang beramal baik. Karena jika mereka masuk surga
berdasarkan amal baik mereka sendiri maka itu bukan lagi satu
penghargaan bagi seseorang yang telah beramal baik itu. Sebab itu setiap
orang beramal baik akan masuk Surga.
Puasa dan Pengampunan
S.33 Al Ahzab 35 berkata bahwa mereka yang berpuasa baik
pria maupun wanita, bagi mereka telah disediakan pengampunan dan satu
pahala yang besar. Ada tertulis: Hal ini telah dinyatakan dalam Al
Qur'an bahwa berpuasa selama dua bulan akan mendapatkan pengampunan dari
dosa membunuh. Adatertulis: "Tidak boleh orang Mukmin membunuh orang
Mukmin (yang lain), kecuali tersalah. Barang siapa membunuh orang Mukmin
dengan tersalah, hendaklah memerdekakan seorang hamba yang Mukmin,
serta dibayarkan diah (denda) kepada keluarga yang terbunuh itu, kecuali
jika mereka sedekahkan. Jika orang yang terbunuh itu dari kaum musuhmu,
sedang ia Mukmin, maka hendaklah memerdekakan seorang hamba yang
Mukmin. Jika yang terbunuh itu dari kaum (kafir) yang ada perjanjian
antara kamu dengan mereka, maka hendaklah dibayarkan diah kepada
keluarganya, serta memerdekakan seorang hamba yang Mukmin. Orang yang
tiada memperoleh hamba itu hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut,
sebagai penerimaan taubat dari Allah. Allah Maha mengetahui, lagi Maha
bijaksana "(S.4 An Nisaa' 92). Disebutkan juga sebabnya ayat ini turun
seperti berikut; "Urwa bin Al Zubayr menyatakan bahwa Hudhayfa Ibnu Al
Yaman pada hari peperangan Uhud bersama dengan Nabi Allah di mana
orang-orang Mukmin berbuat salah dan berpikir bahwa ayah Al Yaman adalah
seorang yang tidak percaya. Mereka membunuhnya dengan pedang walaupun
Hudayfa berseru: "Dia ayah saya." Sayang, mereka tidak menyimak seruan
itu sehingga membunuh ayahnya. Sesudah itu Hudhayfa berkata: "Semoga
Allah mengampuni kamu. Dia adalah Pemurah." Ketika Nabi Allah mendengar
hal ini, Hudhayfa meneruskan perkiraan itu dan turunlah ayat ini.
Ada kisah lain dibalik ayat ini. Abu Al Darda' yang
sedang bersama dengan kelompok penyerbu, pamit untuk suatu kebutuhan.
Dia bertemu seorang lelaki dengan kumpulan domba dan menyerangnya dengan
pedang. Orang tersebut sempat berseru: "Tiada Tuhan selain Allah."
Namun Abu Al Darda tetap membunuhnya dan mengusir ternaknya. Sesudah
peristiwa itu, dia merasa terganggu dan mengemukakan masalah ini kepada
Nabi, yang kemudian berkata: "Dapatkah engkau melihat ke dalam hatinya
untuk mengetahui apakah dia itu seorang beriman atau tidak?" Saat itu
Abu Al Darda taubat dan turunlah ayat ini.
Al
Qur'an mencatat, puasa selama tiga hari memberikan pengampunan atas dosa
bersumpah palsu seperti tertulis: "Allah tiada menyiksamu, karena
sumpah yang tidak kamu sengaja. Maka kaffaratnya (mengampuni
kesalahannya), memberi makanan kepada sepuluh orang miskin, dari pada
makanan yang biasa dimakan oleh keluargamu atau memberikan pakaian
kepada mereka, ataupun memerdekakan seorang hamba. Barang siapa yang
tidak memperoleh (apa-apa yang tersebut itu), hendaklah ia berpuasa tiga
hari lamanya. Itulah kaffarat sumpahmu, bila kamu bersumpah. Dan
peliharalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya
kepadamu, mudah-mudahan kamu berterima kasih" (S.5 Al Maa-Idah 89).
Naik Haji dan Pengampunan
Ada tertulis: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah
syi'ar-syi'ar (tanda-tanda agama) Allah. Maka barang siapa yang
menyengaja Bait (mengerjakan haji) atau um' rah tiadalah mengapa, bahwa
ia berlari-lari antara keduanya. Barang siapa mengerjakan kebaikan
(memperbuat sunnat), maka sesungguhnya Allah syukur (membalas) lagi Maha
mengetahui"(S.2 Al Baqarah 158).
Ibnu Abbas
berkata: "Dahulu ada satu berhala di Al Safa dan Al Marwah. Orang yang
tidak beriman dan bodoh biasanya mengelilingi berhala ini dan
menjamahnya. Sesudah Islam masuk, orang-orang Mukmin menjadi benci
mengitari tempat itu di mana terdapat dua berhala. Demikian sejarah ayat
ini diturunkan. Istilah "bukan pelanggaran ringan", artinya bukan
kejahatan dan Allah menerima amal baik orang yang rela menunaikan ibadah
haji.
Sedekah dan Pengampunan
Telah dikatakan: "Barang siapa mempersembahkan shalat
dan sedekah mendapatkan pahala dengan Allah Tuhannya. Dan tidak ada
takut pada mereka dan mereka tidak akan susah." Menanggapi ayat ini Ibnu
Abbas berkata: "Mereka tidak akan takut terhadap apa yang akan menanti
mereka pada Hari Kebangkitan dan mereka tidak akan susah dengan apa yang
telah mereka tinggalkan dalam dunia ini." Al Asam menjelaskan: "Tidak
ada ketakutan bahwa mereka akan menderita pada hari itu atau akan
berduka karena mereka tidak mencapai kebahagiaan besar seperti yang
didapatkan orang lain, karena dalam kehidupan nanti itu tidak ada lagi
persaingan."
Berjuang di jalan Allah dan Pengampunan
Dalam S.2 Al Baqarah 218, kita baca: "Orang-orang
berhijrah dan berjuang pada jalan Allah, mereka itu mengharap rahmat
Allah. Allah Pengampun lagi Penyayang." Hal ini berkaitan dengan Abdul
Allah bin Djahsh yang menanyai Muhammad, "Hai Nabi Allah seandainya
tidak ada hukuman bagi apa yang kita perbuat, dapatkah kita mengharapkan
pahala dan balas jasa amal baik kita?" Ayat ini diturunkan karena Abdul
Allah telah berimigrasi dan berjuang pada jalan Allah.
Mengaji dan Pengampunan
Dalam Surat Al A'Raf 204 dikatakan: "Apabila dibaca
orang Qur'an hendaklah kamu dengarkan dan diamlah, mudah-mudahan kamu
mendapat rahmat." Para Juru Tafsir mengatakan bahwa sebelum ayat ini,
Allah menegaskan Al Qur'an sebagai anugerah bagi dunia. Dikatakan dalam
Hadist bahwa Abu Dhar Al Ghifari berkata kepada Muhammad: "Hai Nabi
Allah, aku takut mempelajari Al Qur'an dan tidak melaksanakannya.
Muhammad menjawab, 'Janganlah takut hai Abu Dhar. Allah tidak mendukakan
hari di mana Qur'an berdiam.'"
Mengenai Anas
Ibnu Malik dikatakan: "Nabi berbicara kepadaku dan berkata, 'Barang
siapa mendengar Al Qur'an maka penderitaan dunia tidak akan mendekat
padanya dan barang siapa membacanya akan terpelihara dari kesengsaraan
hidup mendatang, ". Menurut kutipan Ibnu Mas'ud, Nabi berkata: "Barang
siapa membaca Al Qur'an, menghafalkan dan memeliharanya akan dipimpin
Allah ke Surga (Taman) dan diijinkan memohon ampun atas 10 orang
keluarganya yang telah ditetapkan untuk neraka."
Sahadat dan Pengampunan
Abu Huraira berkata bahwa Abu Dhar Al Ghifari bertanya
kepada Muhammad, "Hai Nabi Allah, bagaimanakah seorang Muslim
diselamatkan?" Muhammad menjawab: "Dia diselamatkan dengan mengucapkan,
"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu
Utusan Allah."
Kehendak Allah dan Pengampunan
Dalam surat Al Imran 129 dikatakan: "Bagi Allah apa-apa
yang dilangit dan apa-apa yang di bumi, Dia mengampuni (dosa) orang yang
dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya. Allah Pengampun
lagi Penyayang." Fakhr Al Razi dalam menjelaskan ayat ini berkata:
"Rekan-rekan kami menduga keras dalam menunjang ayat ini melihat Allah
berada di atas segala-galanya. Dia berhak membawa manusia ke surga
melalui penghakiman illahiNya atas semua orang yang tidak beriman dan
pemberontak, juga berhak dengan keputusan illahiNya, mengirim semua
orang yang melakukan kejahatan ke dalam neraka. Tidak ada yang dapat
menentangNya dalam pelaksanaan ini." Al Razi tidak mengarah pada
pendapat tersebut melainkan hanya menunjang dengan ucapan: "Ayat ini
jelas menunjukkan artinya dan ditunjang bukti intelektuilnya, karena
perbuatan manusia bergantung pada kehendak, dan kehendak adalah ciptaan
Allah. Jika Allah menciptakan pikiran lain maka manusia tidak
mentaatinya. Ketidaktaatan dan ketaatan manusia keduanya berasal dari
Allah. Karena semua merupakan tindakan Allah maka tidak ada yang
diwajibkan baginya. Ketaatan tidak harus mendapat pahala, demikian juga
ketidaktaatan, tidak seharusnya diberikan hukuman setimpal, karena
segalanya berasal dari Allah dan sesuai dengan kehendak illahi, paksaan
dan kuasaNya.
Pandangan ini bertentangan
dengan Alkitab, yang menekankan korban sebagai satu jalan penebusan
dosa. Kewajiban mana telah ditetapkan sejak semula, di mana darah korban
mengalir bagaikan benang merah dalam seluruh Alkitab. Kitab Ibrani
berbunyi: "Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa"(Ibrani
9:22). Kenyataan, Allah yang sempurna ini, tidak sejalan dengan
kehendakNya dengan mengampuni manusia dari dosa berdasarkan kebenaran
dan keadilanNya yang mengatakan: "Dan orang yang berbuat dosa itu harus
mati" (Yehezkiel 18:4, 20). Jika Allah hendak mengampuni orang berdosa,
tentu ada alasannya. Salah alasan yang memenuhi keadilan dan pemenuhan
yang menurut Perjanjian Lama berasal dari korban-korban binatang seperti
kambing, lembu dan domba. Allah menerima korban ini karena
menggambarkan korban Al-Masih yang telah dipersembahkan dalam anugerah
Perjanjian Baru, memenuhi keadilan illahi untuk selamanya dan menjadikan
semua orang beriman sempurna. Hal mana tertuang dalam Mazmur 85:11,
"Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan
bercium-ciuman".
DOSA YANG TIDAK DAPAT DIAMPUNI MENURUT ISLAM
Mempersekutukan Allah dengan yang lain
Al Qur'an berbunyi: "Sesungguhnya Allah tiada
mengampuni, jika Dia dipersekutukan dengan yang lain dan Dia mengampuni
(dosa) yang kurang dari pada itu" (S.4 An Nisaa 116). Juru tafsir
berpendapat, orang yang menyembah banyak tuhan, dikeluarkan sepenuhnya
dari kemurahan Allah karena sepenuhnya dari kemurahan Allah karena
polytheisme adalah dosa besar. Pendapat lain mengatakan, ayat ini
diturunkan berhubung ada yang menyembah malaekat dan menganggap malaekat
sebagai saudara perempuan Allah. Razi mengatakan, mereka yang tidak
percaya pada kehidupan di masa datang, berpendapat bahwa malaekat adalah
wanita.
Membunuh Orang Beriman
Seperti yang dikatakan Al Qur'an: "Barang siapa membunuh
seorang Mukmin dengan disengaja, maka balasannya neraka jahanam, serta
kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, serta mengutukinya dan
menyediakan baginya siksaan besar" (S.4 An Nisaa' 93). Abu Hunayfa
berkata: "Tidak ada penebusan bagi pembunuhan yang disengaja." Ibnu
Abbas berkata, "Pertobatan seorang yang membunuh dengan sengaja tidak
akan diterima."
Murtad
AlQur'an
berkata dengan jelas: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir sesudah
beriman, niscaya tiada diterima taubat mereka dan mereka itulah
orang-orang sesat" (S.3 Al Imran 90). Para penafsir berpendapat,
kemurtadan melipat gandakan ketidakpercayaan (kekafiran). Dengan kata
lain, orang yang murtad dan terus melakukan dosanya, menambah
ketidaksetiaan pada kefasikannya. Al Kaffal dan Ibnu Al Anbari: "Barang
siapa meninggalkan imannya sesudah taubat, maka taubat yang murni itu
tidak akan diterima. Seperti tidak pernah terjadi."
PENEBUSAN MENURUT IMAN KRISTEN
Penebusan adalah istilah yang berarti menutupi
atau menyembunyikan. Dalam Iman Kristen, kata ini dikaitkan dengan
karya Al-Masih melalui ketaatanNya yang sempurna menyediakan keselamatan
umat manusia dari kutuk Hukum Taurat dan memperdamaikan dengan Allah
melalui darahNya di kayu salib.
Sehubungan dengan
ini, Rasul Petrus berkata: "Sebab juga Al-Masih telah mati sekali untuk
segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar,
supaya Ia membawa kita kepada Allah" (I Petrus 3:18).
Marilah kita teliti penebusan Al-Masih ini dari pelbagai
segi; pertama mengenai hubunganNya dengan Allah dari segi kasih,
keadilan dan kekudusanNya; kemudian hubungannya dengan manusia, yakni
pekerjaanNya didalam manusia dan untuk manusia. Benar bahwa penebusan
dalam iman Kristen merupakan satu peniadaan dosa manusia dan satu
deklarasi jelas tentang effektifnya korban Al-Masih dalam menyelamatkan
orang berdosa dari kutuk Hukum Taurat dan menghilangkan hukuman atasnya.
Benar, karya Al-Masih merupakan satu kepuasan bagi Allah dan pemenuhan
atau penggenapan keadilanNya, yaitu satu kepuasan dan pendamaianNya.
Betapa effektifnya korban Al-Masih ini dalam menyingkirkan murka Allah
dan menunjukkan kesenangan Allah menerima orang berdosa kepada satu
perdamaian. Juga benar, bahwa penebusan berarti menutupi (melindungi)
orang berdosa dengan darah Al-Masih, Hukuman tidak lagi menjadi tuntutan
baginya, karena hukuman telah diangkat dan diletakkan pada Al-Masih,
yang telah dikorbankan baginya. Aspek ini dikemukakan Rasul Yohanes
demikian: "Inilah kasih itu; bukan kita yang telah mengasihi Allah,
tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya
sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" ( I Yohanes 4:10).
Kemudian pula dikemukakan bahwa penebusan telah membuka
pintu pendamaian antara manusia dan Allah tanpa melanggar kemurnian
hukum Allah. Inilah yang dimaksud Rasul Paulus dalam II Korintus 5:19,
"Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Al-Masih dengan tidak
memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita
pendamaian itu kepada kami." Walaupun manusia telah merumitkan (menjadi
filsafat) sifat Allah dan hubunganNya dengan ciptaanNya yang berdosa
secara luas, mereka belum pernah mencapai satu kesimpulan yang
memuaskan. Alkitab menjelaskan apa yang tidak dapat diuraikan dengan
filsafat. Allah itu adil. Keadilan menuntut hukuman atas orang berdosa.
Sebab itu tidak ada pendamaian tanpa penebusan. Di sinilah korban
penutup dosa diawali, bermula dari Taman Firdaus, ketika Allah membuat
pakaian kulit untuk Adam dan Hawa, yang meminta korban binatang. Kita
mengetahui dari Alkitab bahwa korban Habil yang diterima Allah adalah
bayangan Allah yang akan datang, dan masih diungkapkan dalam bentuk
penyataan dan ilham (Kejadian 4:4). Demikian juga, seekor biri-biri
jantan yang disediakan Allah untuk Abraham bagi penebusan Iskak anaknya,
merupakan bayangan atau lambang penebusan melalui korban Al-Masih yang
telah direncanakan Allah sejak mula (Kejadian 22:1-14). Domba Paskah
yang diperintahkan Allah yang dipersembahkan di Mesir (Keluaran
12:1-42) adalah bayangan nyata Anak Domba Paskah dalam Perjanjian Baru
seperti yang dikemukakan Rasul Paulus dalam I Korintus 5:7-8, sebab Anak
Domba Paskah kita juga telah disembelih yaitu Al-Masih, karena itu
marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama bukan dengan pula
dengan ragi keburukkan dan kejahatan tetapi dengan roti yang tidak
beragi yaitu kemurnian dan kebenaran."
Perjanjian
Baru menggunakan kata "korban penehusan" sebagai penyelamatan yang
sudah disempurnakan Al-Masih disalib, menggenapi tuntutan Hukum Allah,
ganti manusia itu sendiri. Dalam penderitaan dan korban kematian
penebusan sebagai pengganti, terletak penggenapan sempurna atas hukuman
yang layak dijatuhkan pada manusia, karena dosa. Hal mana sudah memenuhi
tuntutan keadilan illahi serta membenarkan orang berdosa yang percaya
dan taubat. Alkitab menggunakan kata "anugerah" untuk mengungkapkan
penebusan Al-Masih, karena Bapa Sorgawi tidak lagi memaksakan korban
orang berdosa. Dia juga tidak memaksa AnakNya mengambil rupa manusia
untuk menjadi Penebus. Allah yang kaya akan rahmat dengan kasih yang
besar, mengakhiri hukuman Taurat dan menerima korban penggantian yang
dikerjakan dengan rela oleh Firman Allah yang menjadi manusia sebagai
ganti orang berdosa. Penebus sendiri menguatkan kebenaran ini dalam
Yohanes 10:15, "Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu." Jika kita
bandingkan dengan Yohanes 15:13, "Tidak ada kasih yang lebih besar dari
pada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya",
maka kita akan memahami maksud Allah yang telah mengosongkan diriNya,
mengambil rupa manusia serta menderita, menanggung semua dosa kita dalam
tubuhNya di kayu salib. Rasul Paulus mengukuhkan pentingnya korban
penggantian ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma, "Sebab apa yang
tidak mungkin dilakukan Hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging
telah dilakukan Allah dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam
daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia
telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan
Hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging,
tetapi menurut roh" (Roma 8:3-4).
Maksudnya ialah
kematian kekal sebagai upah dosa kita, telah ditanggung Al-Masih,
menggenapi nubuatan dalam Yesaya 53:5, "Ganjaran yang mendatangkan
keselamatan bagi kita ditimpahkan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya
kita menjadi sembuh". Penebusan menjamin pengampunan dan berkat
keselamatan yang bekerja dan berkesinambungan bagi orang-orang percaya,
milik Allah karena dua hal;
Pertama, Allah
menjanjikan keselamatan bagi orang percaya dari sudut ketaatan dan
penderitaan Al-Masih. Hal ini dapat dibaca dalam Roma 5:18-19, "Sebab
itu sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman,
demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh
pembenaran untuk hidup." Jadi sama seperti ketidaktaatan satu orang
(Adam), semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh
ketaatan satu orang (Al-Masih) semua orang menjadi orang benar."
Kedua, keselamatan telah memenuhi persyaratan
keadilan Allah berdasarkan perjanjian kekal antara Bapa dan Anak. Guna
menghilangkan segala bentuk keraguan yang mungkin timbul, pernyataan
illahi sendiri mengemukakan, "Sejak Al-Masih datang ke dunia, Dia
berfirman, 'Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban
bakaran dan korban penghapus dosa tidak engkau tuntut. Dan jawabku,
"Sungguhaku datang melakukan kehendakMu yah Tuhan" (Mazmur 40:7, Ibrani
10:5-7). Demikianlah Al-Masih menjadi manusia, menjadi pengganti orang
berdosa, menanggung hukuman, memenuhi tuntutan perjanjian yang telah
dilanggar itu. Rasul Paulus mempertajam pokok ini dengan berkata: "Akan
tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Al-Masih
telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena
kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya kita pasti akan
diselamatkan dari murka Allah" (Roma 5:8-9).
SEBAB-SEBAB PERLUNYA PENEBUSAN
1. Perlunya Keselamatan
Keselamatan bukan kebutuhan kolektif (kebersamaan),
tetapi kebutuhan pribadi (perorangan). Semua manusia telah dihukum dan
hidup di bawah penghukuman. Satu ketika Al-Masih bertanya: "Dan apakah
yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"(Matius 16:26). Manusia
tidak mempunyai sesuatu untuk menebus nyawanya sendiri termasuk nyawa
sesamanya. Allah berfirman melalui Daud: "Tidak seorangpun dapat
membebaskan dirinya"(Mazmur 49:8). Seperti dalam pertobatan, naluri
manusia secara alamiah mengungkapkan bahwa pertobatan tidak dapat
menghilangkan dosa masa lalu. Ada cara lain untuk mendapatkan
pengampunan, yakni melalui penebusan. Kalau tidak demikian, bagaimana
kita dapat menjelaskan korban yang dipraktekkan dari masa ke masa dalam
hampir semua agama di dunia ini? Kita sama mengetahui bahwa batin
manusia merindukan akan satu penebusan. Kenyataan lain, bahwa hati
nurani menuntun kita menghargai tuntutan kekudusan, walaupun itu
bertentangan dengan perilaku kita. Setiap orang sadar, nuraninya akan
terganggu apabila berhadapan dengan pelepasan dosa-dosa masa lalunya.
Satu pelepasan yang hanya didapat dengan jalan pembenaran melalui
penebusan.
2. Kebejatan Manusia dan Kekudusan Allah
Allah adalah kudus dan manusia sudah berbuat dosa.
Dosa nampak dalam pertentangan dengan kekudusan illahi. Sebab itu
manusia berada di bawah penghukuman. Ia tidak akan diampuni sebelum
penghukuman itu disingkirkan. Sekalipun ada kemungkinan dibenarkan
melalui pertobatan, kebenaran di atas tetap dibutuhkan demi peniadaan
dosa-dosa tersebut. Jika Allah memberi ampun tanpa penebusan, maka orang
berdosa tidak akan menghargai hukum dan kekudusanNya. Untuk itu
penebusan ditetapkan guna menghapus dosa dan sekaligus menyatakan
kesempurnaan sifat Allah yang mutlak.
3. Penebusan sejalan dengan kebutuhan moral manusia.
Manusia memiliki sifat moral. Suara
hati mengajarkan dia keadilan dan kekudusan yang mulia. Jika ia
menyadari dosanya tanpa mengetahui adanya penebusan, maka suara hatinya
akan terganggu. Dan pengampunan melalui penebusan akan memuaskan batin
dan memenuhi tuntutan moralnya.
4. Penebusan memenuhi Tuntutan Hukum Taurat
Hukum Taurat menuntut orang berdosa dihukum. Hukum
yang dijungjung tinggi selalu menuntut ganjaran. Demikian pula
pengampunan tanpa penebusan berarti hancur dan gagalnya Hukum Taurat.
Hal mana bertentangan dengan kata-kata Al-Masih dalam Matius 5:18,
"Karena Aku berkata kepadamu, 'Sesungguhnya selama belum lenyap langit
dan bumi, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari Hukum
Taurat, sebelum semuanya terjadi." Perlu diingat, pengampunan tanpa
penebusan sama dengan beranggapan bahwa dosa tidak perlu dihukum. Hal
mana merupakan penghinaan atas keadilan dan kesucian Allah.
5. Penebusan diistimewakan dalam Firman
Allah Jika penebusan tidak dibutuhkan, Allah tidak
akan menuliskannya dalam FirmanNya yang kudus. Al-Masih berkata dalam
Yohanes 3:14, "Dan sama seperti Musa meninggikan ular dipadang gurun
demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang
percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal".
6. Tuntutan Hukum Moral
Allah sebagai penentu moral, bertindak sesuai dengan
hukum-hukum yang telah ditetapkanNya. Ketidaktaatan dan kekacauan tidak
ada dalam dunia moral di mana Allah bertahta. Allah tidak membiarkan
setiap pelanggaran atas perintahNya. Dia menuntut pertanggungan jawab
dari para pelanggar dan menjatuhkan hukum atas mereka. Di samping itu
Allah menyatakan kebencian atas dosa dan murkaNya atas kejahatan dalam
pemeliharaan illahinya melalui penebusan. Untuk menjunjung tinggi
ketetapanNya, Allah membuka pintu perdamaian bagi orang berdosa.
7. Kenyataan adanya Korban Penebusan dalam Banyak Agama
Hal ini menunjukkan bahwa suara
hati manusia merindukan penebusan, karena tidak dipuaskan dengan
pertobatan saja. Manusia mendambahkan penebusan melalui penumpahan darah
korban untuk orang berdosa. Semua alasan ini membuktikan perlunya
penebusan itu.
BEBERAPA MASALAH PENTING LAINNYA
Amal baik dan Pengampunan
Amal baik adalah satu kewajiban yang harus dilaksanakan.
Dan tidak dapat dijadikan pengampunan dosa masa lalu. Al-Masih
mengemukakan kebenaran ini, "Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah
melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu
berkata, 'Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna'" (Lukas 17:10).
Rasul Paulus berkata dalam Efesus 2:8-9, "Sebab karena kasih karunia
kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian
Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada; jangan ada orang yang
memegahkan diri".
Karena harta dan kesehatan yang
kita nikmati ini berasal dari Allah yang dipercayakan kepada kita, maka
apabila kita memberi banyak persembahan (beramal) untuk pelayanan, kita
sesungguhnya belum melakukan sesuatu yang layak untuk mendapat pahala.
Daud mengemukakan hal ini dalam I Tawarikh 29:14, "Sebab siapakah aku
ini dan siapakah bangsaMu, sehingga kami mampu memberikan persembahan
sukarela seperti ini? Sebab dari padaMulah segala-galanya dan dari
tanganMu sendirilah persembahan yang kami berikan kepadamu." Demikianlah
Daud sesudah mempersembahkan sejumlah besar uang untuk pembangunan Bait
Allah.
Amal baik tidak sanggup menghapus hina
dan nista kita kepada Allah. Kekudusan dan kebenaranNya tidak terbatas.
Oleh karena itu amal baik tidak dapat memberikan pengampunan dosa.
Untuk datang ke hadirat Allah kita membutuhkan
kekudusan. Tanpa kekudusan tidak seorangpun dapat melihat Allah. Amal
baik tidak menjadikan kita kudus. Kekudusan diberikan kepada orang
beriman yang sudah dilahirkan oleh Roh Allah. Al-Masih berkata: "Jika
seorang tidak dilahirkan dengan air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam
Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa
yang dilahirkan dari Roh adalah roh" (Yohanes 3: 5-6).
Doa dan Pengampunan
Doa
bukan satu percakapan dengan Allah dan merenungkan pribadiNya. Orang
berdosa sudah terpisah dari Allah dan doanya tidak lagi memenuhi syarat.
Allah berfirman melalui Nabi Yesaya: "Sesungguhnya tangan Tuhan tidak
kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang
tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan
Allahmu ialah segala kejahatanmu dan yang membuat Dia menyembunyikan
diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar ialah segala dosa-mu"
(Yesaya 59:1-2). Daud berkata: "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku,
tentulah Tuhan tidak mau mendengar" (Mazmur 66:18).
Puasa dan Pengampunan
Puasa sama dengan doa, merupakan sebagian dari
penyembahan. Aspek kerendahan dan kehancuran hati di hadapan Allah, yang
tidak mampu memulihkan seseorang pada kebenaran manusia sebelum
kejatuhan. Seperti halnya doa, puasa tidak dapat menutupi dosa
pelanggaran terhadap kesucian Allah. Karena itu, tidak dapat diartikan
dengan pengampunan. Allah berfirman melalui Nabi Zakharia: "Katakanlah
kepada seluruh rakyat negeri dan para imam, demikian, 'Ketika kamu
berpuasa dan meratap dalam bulan ke lima dan yang ketujuh selama tujuh
puluh tahun ini adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku? Dan
ketika kamu makan dan ketika kamu minum bukankah kamu makan dan minum
untuk dirimu sendiri?"(Zakharia 7:5-6).
RINGKASAN
- Keselamatan manusia didasarkan atas penebusan. Hal ini bukan satu teori filsafat tetapi fakta yang dibutuhkan untuk mengangkat dosa manusia yang telah jatuh.
- Kita sependapat, Adam jatuh dalam dosa dan melibatkan seluruh umat manusia, karena dia mewakili umat manusia dalam menghadapi ujian illahi. Allah dalam kasihNya telah merencanakan peniadaan dosa dari manusia yang diciptakan menurut gambarNya dengan menyediakan seorang pengganti yang mampu menyatakan kuasa dan kasih Allah, agar manusia diselamatkan. Kasihnya berasal dari Allah. Demikianlah, Allah dengan kasihNya yang besar pada umat manusia, menginginkan Al-Masih datang dalam daging dan darah, bersekutu dengan manusia dan menjadi pengganti sempurna manusia dan dinamakan oleh Rasul Paulus dengan Adam kedua. Adam pertama mewakili manusia dalam kejatuhannya sedangkan Adam kedua menggantikan manusia sebagai korban penebusan dan keselamatan.
- Pengganti perlu membayar lunas, untuk mengangkat dosa dunia ini. Al-Masih telah membayarnya melalui kematianNya di kayu salib, tempat Ia menanggung segala dosa kita dalam tubuhNya. Hal yang meyakinkan kita akan perlunya penebusan melalui salib adalah persembahan darah korban dalam Perjanjian Lama, yang melambangkan Al-Masih Anak Domba Allah.
Satu hal istimewa dari korban Al-Masih, di samping
mengangkat dosa manusia ialah menyembuhkan manusia dari penyakit moral.
Seorang yang sudah menerima Al-Masih yang tersalib, hidupnya menjadi
baru. Salib menerangi akal budinya, memahami akan dasyatnya pekerjaan
dosa dan hebatnya penghukuman itu.
Sehubungan
dengan ini lahir perkataan Rasul Yohanes, "Tetapi jika kita hidup dalam
terang sama seperti Dia ada dalam terang, maka kita beroleh persekutuan
seorang dengan yang lain, dan darah Al-Masih AnakNya itu, menyucikan
kita dari pada segala dosa" (I Yohanes 1:7).
BAHAN KAJIAN
- Sebutkan jumlah istilah dosa dalam Al Qur'an!
- Adakah Adam dan Hawa dilihat sebagai seorang berdosa dalam Al Qur'an?
- Sebutkan ayat-ayat Al Qur'an, menyangkut dosa orang tua kita yang pertama itu!
- Jelaskan maksud ayat Al Qur'an ini: "Adam mendurhakai Tuhannya, lalu jahil (tersesat)" (S.20 Thaha 121).
- Sebutkan definisi dosa menurut iman Kristen!
- Bagaimanakah cara dosa masuk dalam dunia?
- Dosa adalah warisan. Benarkah? Jelaskan!
- Sebutkan pengaruh dosa dalam hidup manusia!
- Apakah upah dosa itu?
- Sebutkan jumlah ayat Al Qur'an yang berhubungan dengan penebusan!
- Jelaskan arti penebusan menurut Islam!
- Jelaskan terjadinya penebusan dalam Islam!
- Jelaskan perbedaan penebusan dan pengampunan dalam Islam!
- Sebutkan cara-cara mendapatkan penebusan menurut Islam! Sebutkan jumlahnya!
- Jelaskan arti penebusan menurut iman Kristen.
- Jelaskan cara penebusan dipraktekkan dalam Perjanjian Lama.
- Perlukah penebusan itu? Jelaskan!
- Mengapa manusia membutuhkan keselamatan?
- Buktikanlah kebutuhan manusia akan keselamatan dari sudut; akal budi, hukum dan moral!
- Simpulkanlah isi seluruh kitab ini dengan satu ayat Alkitab!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar